Analisa penyebab hilangnya tradisi Rarangkén (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Kampung Cikantrieun Desa Wangunjaya)

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstrak

Artikel ini menjelaskan tentang hilangnya tradisi Rarangkén, faktor penyebab beserta dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat Kampung Cikantrieun Desa Wangunjaya Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut. Tradisi Rarangkén yang mengandung nilai-nilai luhur, seperti orientasi bersama, kekompakan, solidaritas, dan gotong royong telah menghilang keberadaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode studi fenomenologi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi literatur. Menggunakan teori Ferdinand Tonnies mengenai Tipologi masyarakat dan perspektif perubahan sosial budaya (sosiokultural) Pitirim A. Sorokin, penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan: 1) proses dan penyebab hilangnya tradisi Rarangkén, 2) nilai kearifan lokal tradisi Rarangkén, 3) Bentuk modal sosial tradisi Rarangkén, 4) dampak hilangnya tradisi Rarangkén bagi kehidupan masyarakat Kampung Cikantrieun.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Subjek
Sosiologi Budaya
Disiplin Ilmu
Sosiologi
Cara Mengutip
Rohimah, I. S., Hufad, A., & Wilodati. (2019). Analisa penyebab hilangnya tradisi Rarangkén (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Kampung Cikantrieun Desa Wangunjaya). Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development, 1(1), 15-23. Diambil dari http://ijsed.ap3si.org/index.php/journal/article/view/2
Referensi
  1. Hakim, Moh Nur (2003). Islam Tradisional dan Reformasi Pragmatisme Agama dalam Pemikiran Hasan Hanafi. Malang: Bayu Media Publishing.
  2. Johanes, Mardimin. (1994). Jangan Tangisi Tradisi. Yogyakarta: Kansisus.
  3. Lauer, H. Robert. (1993). Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  4. Mitchel, Bruce et.al. (2003). Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  5. Sorokin, A. Pitirim. (1966). Social and Cultural Dynamics. New York: E.P. Dutton and Co.
  6. Sztompka, Piotr. (2007). Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Pernada Media Group.
  7. Al-Farisi, Utsman. (2012). Tradisi Palang Pintu Sebagai Syarat Keberlanjutan Akad Pernikahan (Studi Masyarakat Betawi di Setu Babakan Jakarta Selatan. (Skripsi). Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri, Malang.
  8. Cahyono Budhi. (2014). Peran Modal Sosial Dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Petani Tembakau Di Kabupaten Wonosbo. Jurnal Ekobis. Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Vol. 15 (1).
  9. Gumilar T, Samson, dan Kusnandar. (2016). Rekonstruksi Tradisi Rarangkén Par?: Upaya Awal Konservasi Budaya Pangan di Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Indonesian Journal of Conservation. Vol. 05 (1). Halaman 13-18. ISSN: 2252-9195).
  10. Permana Raden C. E. Nasution Isman, dan Gunawijaya J. (2011). Kearifan Lokal Tentang Mitigasi Bencana Pada Masyarakat Baduy. Jurnal Makara Sosial Humaniora. Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Depok: Universitas Indonesia. Vol. 15 (1).
  11. Woolcock, M. (2001). The Place of Social Capital in Understanding Social and Economic Outcomes. ISUMA Canadian Jurnal Of Policy Reseach. Vol 2.
  12. Dwiecha. (2011). Lunturnya Kebudayaan Bangsa Indonesia. [Online]. Tersedia di: http://dwiecha.blogspot.co.id/lunturnya-kebudayaan-bangsa-indonesia/m=1. Diakses pada tanggal 17 Desember 2017.