Sesajen sebagai Nilai hidup bermasyarakat di Kampung Cipicung Girang Kota Bandung

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstrak

Budaya sesajen menjadi salah satu contoh akulturasi budaya Hindu-Islam. Kebudayaan ini menjadi identitas masyarakat lokal. Kebudayaan sesajen menjadi identitas dan akulturasi serta menjaga kearifan lokal seluruh sistem kehidupan. Akan tetapi hal ini bertolak belakang dengan budaya islam modern yang memgang teguh al-qur’an dan Hadist. Masyarakat awam tidak mengetahui makna serta nilai yang terkandung dalam budaya sesajen. Tujuan penelitian ini ialah 1) menganalisis kebudayaan sesajen, 2) mendeskripsikan kebudayaan sesajen sebagai identitas, 3) menganalisis sesajen sebagai akulturasi budaya, 4) menemukan model pelestarian sebagai kearifan lokal. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif pendekatan kualitatif, intrumen penelitian ini menggunakan observasi partisipasif, catatatan lapangan dan wawancara mendalam. Observasi dilakukan dengan catatan lapangan dan wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, remaja, serta tokoh agama. Hasil penelitian menunjukkan 1) budaya sesajen mulai luntur seiring berkembangnya zaman,serta tidak diminati oleh kalangan muda., 2) Penampilan sesajen pun sangat sederhana dengan balutan kopi,rujak,rokok,bara api 3) model pelestarian dengan cara menurunkan ilmunya ke generasi selanjutnya. Kebudayaan sesajen menjadi dwi fungsi makna dalam hidup bermasyarakat, menjadi sebuah identitas budaya serta kearifan lokal masyarakat yang hanya dapat dilakukan oleh semua pihak yang terlibat baik kalangan masyarakat tertentu dan keluarga tokoh adat.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Subjek
Sosiologi Budaya
Disiplin Ilmu
Sosiologi
Cara Mengutip
Adam, U. K., Yusup, A., Fadlullah, S. F., & Nurbayani, S. (2019). Sesajen sebagai Nilai hidup bermasyarakat di Kampung Cipicung Girang Kota Bandung. Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development, 1(1), 24-31. Diambil dari http://ijsed.ap3si.org/index.php/journal/article/view/3
Referensi
  1. Alison J. Gerlach. (2012). “A critical reflection on the concept of cultural safety”. Canadian Journal of Occupational Therapy Vol 79, 151-158. doi: 10.2182/cjot.2012.79.3.4
  2. Alkaf, Mukhlas. 2013. Berbagai Ragam Sajen Pada Pementasan Tari Rakyat dalam Ritual Selametan. Gelar: Jurnal Seni Budaya. Volume 11 (No 2): 211-223. Journal (online). dalam http://jurnal.isiska.ac.id/index.php/gelar/article/ view/1469/0 (diakses 25 Maret 2017)
  3. Baron, A. Robert & Bryne Donn. (2005). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga
  4. Fauza, Nanda. 2010. Istilah-Istilah Sesaji Upacara Tradisional Jamasan Pusaka di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri (Suatu Kajian Etnolinguistik). Skripsi Sarjana. Surakarta: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra.
  5. Gintis, H. (2007) ‘A Framework for the Unification of the Behavioural Sciences’, Behavioural and Brain Sciences 30: 1–61.
  6. Hanyaturroufah. (2013). “Ritual Sesaji Sebagai Bentuk Persembahan Untuk Kanjeng Ratu Kidul Di Desa Karangbolong Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen”. Vol. 03 / No. 05 / November 2013. HAL 20-13.
  7. Idham Rizkiawan, Meda Wahini. (2017). “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat Tentang Makna Sesajen Pada Upacara Bersih Desa”. e-journal Boga, Volume 5, No. 2, Edisi Yudisium Periode Mei 2017, Hal 11 – 17.
  8. Ika Surya,Widya, dkk. “Arti Material Sesajen Perkawinan Adat Jawa Di Desa Mataram Baru Lampung Timur”. FKIP Unila
  9. Khomsahrial Romli (2015). “Akulturasi Dan Asimilasi Dalam Konteks Interaksi Antar Etnik”. Ijtimaiyya, Vol. 8, No. 1.
  10. Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
  11. Kuper, A. (1999) Culture – The Anthropologists’ Account. London: Harvard University Press.
  12. Leung, K. and Bond, M.H. (1989) ‘On the Empirical Identification of Dimensions for Cross-cultural Comparisons’, Journal of CrossCultural Psychology 20: 133–51.
  13. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (ed.), 2001. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
  14. Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi Efektif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
  15. Ni made kartika, Rahayu Dewi. (2013). “Kajian Ragam Dan Makna Sesajen Pada Upacara Perang Tipat Bantal Di Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung Provinsi Bali”. Ejournanl boga. Volume 2, nomor 1, tahun 2013, edisi yudisium periode Februari 2013, hal 118 – 126.
  16. Reqno, Kadek, A.P. (2013) Hubungan Antara Identitas Sosial dan Konformitas dengan Perilaku Agresif pada Suporter Sepakbola Persisam Putra Samarinda. [Jurnal] 1(3) 241254.
  17. Ria Putri Susanti.(2018). “Makna Simbolik Sesajen Dalam Kesenian Tradisional Kuda Lumping Sanggar Karya Budaya Di Desa Kemuning Muda Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak”. JOM FISIP Vol. 5: Edisi I Januari – Juni 2018.
  18. Richard N. L.(2009). “Culture and International Relations: The Culture of International Relations”. Millennium: Journal of International Studies Vol.38 No.1, pp. 153–159. ISSN 0305-8298; DOI: 10.1177/0305829809336258 http://mil.sagepub.com
  19. Richard Ned Lebow, ‘The Long Peace, the End of the Cold War, and the Failure of Realism’, International Organization 48 (Spring 1994): 249–77.
  20. Ronald Fischer. 2009. “Where Is Culture in Cross Cultural Research? An Outline of a Multilevel Research Process for Measuring Culture as a Shared Meaning System”. International Journal of Cross Cultural Management Vol 9(1): 25 –49. http://www.sagepub.co.uk/journalsPermissions.nav DOI: 10.1177/1470595808101154
  21. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.