Penyesuaian Diri Peserta Didik Pasca Penerapan Sistem Zonasi di SMA Negeri 1 Kartasura

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstrak

Sistem zonasi yang menerima peserta didik berdasarkan radius tempat tinggal dengan sekolah, menciptakan suasana lingkungan sekolah yang berbeda dengan sebelumnya. Penelitian ini menjelaskan ketidaksesuaian peserta didik dengan lingkungan SMA Negeri 1 Kartasura pasca diterapkannya sistem zonasi sehingga mendorong peserta didik untuk melakukan penyesuaian diri dalam sebuah ritus peralihan dengan lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk menemukan data berdasarkan sudut pandang informan, yang mendalam, spesifik serta bersifat alamiah. Data penelitian diperoleh melalui wawancara terhadap peserta didik yang dipilih secara purposive sampling dan diolah melalui alur penelitian maju bertahap serta triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan, dengan beragamnya karakter peserta didik yang diterima melalui PPDB zonasi menunjukan ketidaksesuaian antar peserta didik dengan kultur sekolah mendorong terjadinya proses penyesuaian diri dalam sebuah ritus peralihan. Adapun proses ritus peralihan yang dilalui peserta didik terdiri dari: Pertama, tahap pemisahan dimana peserta didik mulai melepaskan kebiasaan lama ketika masih di SMP. Kedua, tahap liminalitas yaitu tahap ketika peserta didik mulai dikenalkan dengan kebudayaan baru dan berada di situasi yang ambigu dimana peserta didik belum terbiasa dengan kebiasaan baru, namun peserta didik juga sudah tidak melakukan kebiasaan lama. Ketiga, tahap penggabungan, dimana peserta didik mampu menerapkan kehidupan sesuai dengan kultur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Subjek
Adaptasi Sosial, Sosiologi Pendidikan, Administrasi Pendidikan
Disiplin Ilmu
Sosiologi, Pendidikan
Cara Mengutip
Sutisna, N. T., & Nurhadi, N. (2020). Penyesuaian Diri Peserta Didik Pasca Penerapan Sistem Zonasi di SMA Negeri 1 Kartasura. Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development, 2(1), 28-41. https://doi.org/10.52483/ijsed.v2i1.19
Referensi
  1. Ali, M., & Asrori, M. (2005). Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
  2. Andreyeva, E., & Patrick, C. (2017). Paying for Priority in School Choice: Capitalization Effects of Charter School Admission Zones. Journal of Urban Economics, 100, 19–32.
  3. Annisa, F., Nurhadi, & Liestyasari, S. I. (2019). Ritual Unggahan Pada Komunitas Adat Bonokeling (Studi Kasus Pada Komunitas Adat Bonokeling di Kabupaten Banyumas menggunakan teori Liminalitas Victor Turner). Sosialitas (Jurnal Ilmiah Pendidikan Sos-Ant).
  4. Hisbullah, & Anam, S. (2019). Evaluasi Kebijakan Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Tingkat Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kabupaten Pamekasan. Reformasi, 9(2), 112–122.
  5. Javremovic, S., Savic, D., & Janjic, P. (2019). Human Enginering in School Zones. Transportation Research Procedia, 40, 1396–1403.
  6. Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2018 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan dan Bentuk Lain yang. , Pub. L. No. Nomor 14 Tahun 2018 (2018).
  7. Koentjaraningrat. (1987). Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
  8. Kusdiyati, S., Halimah, L., & Faisaludin. (2011). Penyesuaian Diri di Lingkungan Sekolah Pada Kelas XI SMA Pasundan 2 Bandung. Humanitas, VIII(2), 171–194.
  9. Nurlailiyah, A. (2019). Analisis Kebijaka Sistem Zonasi Terhadap PerilakuSiswa SMP di Yogyakarta. Realitia, 17(1), 13–21.
  10. Pratiningrum, M., & Hendriani, W. (2013). Penyesuaian Diri Remaja yang Tinggal di Pondok Pesantren Modern Nurul Izzah Gresik Pada Tahun Pertama. Jurnal Psikologi Kepribadian Dan Sosial, 2(3), 134–143.
  11. Safarah, A. A., & Wibowo, U. B. (2018). Program Zonasi Sekolah Dasar Sebagai Upaya Pemerataan Kualitas Pendidikan di Indonesia. Lentera Pendidikan, 21(2), 2016–2213.
  12. Spradley, J. P. (2006). Metode Etnografi(2nd ed.). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
  13. Turner, V. (1966). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. New York: University of Rochester.
  14. Ula, D. M., & Lestari, I. (2019). Imbas Sistem Zonasi Bagi Sekolah Favorit dan Masyarakat. Reorientasi Profesionalisme Pendidik Dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0, 195–201. Ponorogo: Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
  15. Wulandari, N., Naryoso, A., & Rakhmad, W. N. (2013). Kompetensi Komunikasi Guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Student Center Learning di SMA Negeri 9 Semarang. Jurnal Interaksi Online, 1(4).