Peran Paguyuban Duta Wisata “Sekargading” dalam Mengembangkan Pariwisata di Kabupaten Batang

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstrak

Tulisan ini membahas peran Paguyuban Sekargading dalam mengembangkan pariwisata di Kabupaten Batang. Pariwisata merupakan sektor yang memiliki dampak positif pada berbagai sektor kehidupan manusia lainnya, untuk mengoptimalkan hal itu Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Batang kembali mengaktifkan Paguyuban Duta Wisata “Sekargading”. Tulisan ini menggunakan teori peranan oleh David Berry dan metode penulisan kualitatif. Tulisan ini memberikan hasil bahwa terdapat pandangan dari masyarakat yang mengamati Paguyuban Sekargading hanya digunakan sebagai among tamu dan masih mengikuti aktivitas dari Disparpora, masyarakat yang pernah mengikuti kegiatan Paguyuban Sekargading menganggap beberapa kegiatan yang dilakukan oleh paguyuban memiliki pengaruh terhadap pariwisata di Kabupaten Batang. Peranan yang dilakukan oleh Paguyuban Sekargading untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten Batang diwujudkan melalui beberapa program kerja, seperti Mas Mbak Batang Berbagi, Mas Mbak Batang Goes To School, dan Mbolang Mbatang. Secara keseluruhan peran ganda anggota paguyuban merupakan kendala terbesar yang dirasakan oleh Paguyuban Sekargading.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

Subjek
Sosiologi Pariwisata, Pemberdayaan Masyarakat
Disiplin Ilmu
Sosiologi
Cara Mengutip
Agung, D. P., & Wijaya, A. (2019). Peran Paguyuban Duta Wisata “Sekargading” dalam Mengembangkan Pariwisata di Kabupaten Batang. Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development, 1(1), 60-70. https://doi.org/10.52483/ijsed.v1i1.6
Referensi
  1. Andriyani, L. (2014). Peran Duta Wisata Dalam Mempromosikan Kebudayaan dan Pariwisata di Kalimantan Timur. Journal Ilmu Komunikasi, 2 (4).
  2. Berry, D. (2003). Pokok-Pokok Pikiran dalam Sosiologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  3. Brata, N. T. (2009). Religi Jawa dan Remaking Tradisi Grebeg Kraton, Sebuah Kajian Antropologi. Sejarah Dan Budaya, 2 (2), 59-68.
  4. Dewi, M. H. U., Fandeli, C. dan Baiquni, M. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3 (2), 117-226.
  5. Fadhila, N. (2013). Peran Dan Fungsi Paguyuban Jaranan Wahyu Kridha Budhaya Di Kota Kediri, Jawa Timur. APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan, 2 (2).
  6. Fitriyani, R. (2012). Peranan Paguyuban Tionghoa Purbalingga Dalam Pelestarian Tradisi Cap Go Meh. Jurnal Komunitas, 4 (1).
  7. Oktarina, C. A. (2015). Peran Cak dan Ning Surabaya Dalam Strategi Promosi Kota Surabaya. Journal Commonline Departemen Komunikasi, 4 (2).
  8. Paul, K., Yuriewaty, P. dan Waleleng, G. J. (2017). Peranan Duta Pariwisata Randa Kalibasa dalam Mempromosikan Potensi Wisata Kota Palu. Jurnal Acta Diurna, VI (1).
  9. Pendit, N. S. (2006). Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita.
  10. Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 – 2025.
  11. Pertiwi, M. N. (2014). Fungsi Paguyuban Kampung Batik Dalam Pelestarian Batik Semarang Di Kota Semarang. Jurnal Solidarity, 3 (1).
  12. Randa. (2015). Peran Duta Wisata Dalam Mempromosikan Pariwisata Kabupaten Solok. Jom FISIP, 2 (2).
  13. Rimawati. (2015). Penerapan Sadar Wisata Dan Penguatan Citra Wisata Melalui Penanamaan Tanaman Upakara Di Kerambitan Kabupaten Tabanan. Jurnal Mimbar Hukum, 27 (1), 30-41.
  14. Solichah, F. M. (2014). Pandangan Masyarakat Terhadap Kepala Desa Kedungpapar Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang. Skripsi tidak dipublikasikan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.
  15. Syaukani. (2003). Pesona Pariwisata Indonesia. Jakarta: Nuansa Madani
  16. Tatarusanu, M. (2016). Local Community Involvement In Tourism Development. Management Intercultural, XVIII (37), 435-440.
  17. Buzan, T. dan Buzan, B. (2004). Memahami Peta Pikiran (The Mind Map Book). Jakarta: Interaksara
  18. Yulaichah, S. (2017). Bujang dan Dara dalam Mempromosikan Pariwisata di Kabupatenn Indragiri Hulu. Jom FISIP, 4 (1).